Saturday, 25 January 2014

Malaikat Tanpa Sayap


  1. "Dalam hidup, nggak ada jaminan buat terus bahagia, nggak ada kepastian buat apa pun, semua orang bisa terlempar keluar dari kotak rasa nyamannya secara tiba-tiba." -Vino-
  2. "Cinta bukan masalah memiliki. Cinta adalah berani untuk pergi atau ditinggal pergi." -Mura-
  3. "Kita memang hidup dalam sekat-sekat, pengotakan, pelabelan, dan saat label kita dicabut, kita bukan siapa-siapa lagi." -Vino-
  4. "Di dunia maya, kamu ngebiarin semua orang tahu tentang diri kamu.Tapi di dunia nyata, cuma sahabat kamu doang yang tau kamu kayak gimana." -Vino-
  5. "Persetan dengan pengkotak-kotakan! Sekat-sekat yang berdiri tegak diantara manusia. Toh hidup ini, dunia mainnya orang dewasa. Kita pura-pura tua untuk ngelewatinnya atau pura-pura jadi anak-anak buat ngehindarinnya." -Vino-
  6. "Embun nggak perlu warna biar bisa bikin daun jatuh cinta. Sama kayak aku, aku nggak punya alesan nggak jatuh cinta sama kamu." -Vino-
  7. "Kalo aku pergi, aku nggak minta banyak. Kamu inget aku sekali-sekali, oke." -Mura-
  8. “Tapi kadang dalam hidup, kita tidak dihadapkan pada pilihan. Dalam hidup,nggak ada jaminan buat terus bahagia. Seperti burung-burung senja itu,yang bisa mendadak melayang jatuh nggak pernah kembali ke sarang mereka. Tapi buat aku dan Mura, waktu pernah mematahkan sayap-sayap kami, tapi waktu pula yang menyembuhkan, dan mengajari kami….. untuk tidak pernah menyerah.” –Vino-
  9. “Kamu tahu nggak,kalau aura kamu positif,positif terhadap hidup, pasti alam juga akan mendukung dan setuju sama kamu.”-Mura-
  10. “Kadang, untuk ninggalin temen yang kita sayang,kita justru bikin dia marah dan sakit hati, agar saat kita pergi,kita nggak merasa terlalu kehiilangan.-Vino-
  11. “Kita punya banyak pilihan buat jalanin hidup, tapi nggak punya pilihan buat mati” -Vino-
****
~Surat Vino untuk Sang Ayah:
Pa, kalo ada hal yang aku nggak cerita sama papa, bukan karena aku nggak ngehargain papa. Aku cuma pingin tumbuh jadi laki-laki, yang bisa nyimpen sepinya sendiri. Seperti Papa.


~Surat Vino untuk Mura:
Mura sayang,aku nggak tahu harus mulai dari mana.Aku cuma pingin bilang,jatuh cinta sama kamu bikin aku utuh. Aku nggak lagi ngerasa separuh. Mura sayang,kalau kamu bangun nanti, kamu nggak akan pernah ketemu aku lagi. Tapi aku nggak pergi.Aku nggak akan kemana –mana. Aku ada dalam tubuh kamu. Kamu akan berdegup dengan jantungku. Jantung kita.
****
Pemeran:
Adipati Dolken sebagai Vino
Maudy Ayunda sebagai Mura
Ikang Fawzi sebagai Papa Mura
Surya Saputra sebagai Papa Vino alias Amir
Agus Kuncoro sebagai Calo
Kinaryosih sebagai Ibu Vino alias Myra
Gecca Qheagaveta sebagai adik Vino alias Wina
****
Vino adalah putra tunggal dari sebuah keluarga. Vino tidak terlalu dekat dengan keluarganya, apalagi  setelah Amir mengalami kebangkrutan akibat ditipu rekan bisnisnya sehingga mau tidak mau mereka harus pindah dari perumahan elite ke rumah kontrakkan di gang. Mirna yang sudah tidak kuat menjalani hidup bersama Amir yang berlagak hanya mau bekerja layaknya seorang boss, akhirnya kabur meninggalkan rumah dan keluarganya.

Di sekolah, Vino pun mendapat panggilan dari kepala sekolah karena tunggakkan spp nya yang belum juga dibayar. Padahal, dulu, Ayah Vino adalah donatur terbesar di sekolah tersebut. Merasa muak dengan perubahan kehidupannya dan juga muak dengan semua yang dipikirkan ayah dan ibunya, entah apa itu, Vino memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah.

Suatu ketika, Wina terjatuh di kamar mandi dan hasil rontgen menunjukkan bahwa Wina harus di operasi  karena kalau tidak, akan terjadi infeksi di kakinya yang berakibat amputasi. Selain itu, Wina kekurangan banyak darah. Rhesus darah Wina adalah A- [rhesus yang langka], yang kebetulan baik Vino maupun Amir memiliki rhesus yang sama. Nah, saat itulah si Calo yang sedang mencari pendonor jantung mendengar bahwa pasiennya memiliki rhesus A-.

Si Calo terus menerus mengawasi Vino yang tengah berdebat dengan Amir mengenai masalah keuangan untuk biaya operasi Wina. Maka, tanpa sungkan-sungkan, si Calo menawari Vino untuk menjadi pendonor jantung karena ada resipien yang golongan darahnya sama dengan Vino. Tentu saja, Vino menolaknya saat itu.

Di rumah sakit yang sama pula, Vino bertemu dengan Mura akibat kesalahpahaman. Beberapa kali mereka berdua bertemu hingga hubungan mereka semakin dekat. Vino tidak mengetahui bahwa Mura memiliki penyakit jantung yang bisa dibilang sudah parah. Dibalik rahasia besar itu, Vino merasakan hidupnya kembali dan semakin berwarna bersama Mura.

Terus-menerus digencat perekonomian, akhirnya Vino menerima tawaran donor jantung demi membayar biaya rumah sakit Wina. Wina kini sembuh. Amir pun bekerja sebagai supir taksi. Namun, lama-kelamaan rasa berani itu goyah. Vino memutuskan untuk tidak jadi mendonorkan jantungnya dan berniat mengembalikan uang yang diberikan si Calo.

Merasa kesal, si Calo pada akhirnya membongkar rahasia bahwa donor jantung itu akan diberikan kepada Mura. Mendengar itu, hati Vino hancur. Sekuat tenaga, ia mencoba untuk meyakinkan hatinya agar ikhlas memberikan jantungnya untuk Mura.

Agar Vino tidak merasa sakit saat pendonoran nanti, si Calo memberikan obat yang entahlah apa, yang jelas katanya obat ini akan menghilangkan rasa sakit Vino nanti. Sebelum menelan dua pil itu, Vino menyempatkan diri menulis surat untuk Amir dan Mura. Vino mulai perhatian kepada ayahnya. Vino menyetrika seragam Amir dan mereka sholat berjamaah.

Hari itu tiba. Vino menguatkan tekadnya dan meminum dua pil yang akan mengantarkannya pada kematian. Tapi alur berbalik, Myra datang untuk mengambil Wina setelah meninggalkannya. Tentu saja, Amir tidak mengijinkannya sedikit pun. Perdebatan sengit terjadi dan... pacar baru Myra datang serta melayangkan satu tembakan ke arah Amir. Amir tumbang bersamaan dengan Vino yang pingsan.

Sebelumnya, Amir telah membaca surat-surat yang ditulis Vino. Di tengah sekarat, Amir mengajukan permohonan agar jantungnya lah yang di donorkan. Jangan jantung Vino. Karena Vino dan Mura harus hidup bahagia. Finally, yap! Mura dan Vino hidup bahagia. Di jantung Mura berdegup jantung Amir bukan Vino.
****
Membaca sinopsis diatas, tanpa harus menjadi spoiler, kita seharusnya sudah bisa menebak kemana film akan bermuara. Formula klise lagi-lagi menjadi amunisi dalam skenarionya. Akan tetapi bukankah semenjak Pygmalion, melodrama selalu lekat dengan hal-hal yang sifatnya streotipikal dan penekanan pada aspek emosional secara berlebihan? Tentu saja adalah naif untuk membandingkannya dengan karya-karya Jean-Jacques Rousseau, apalagi mengharapkan kehadiran aspek sosial-politik seperti film-film milik Douglas Sirk, Rainer Werner atau maestro kita, Teguh Karya.

Namun, di film ini, kronik keluarga yang berperan sebagai subplot cukup menutupi alur yang cenderung oversimplikasi. Emosi tertahan Amir yang menyesakkan, well, harus diakui berhasil membuat penonton merasakan itu.

0 comments:

Post a Comment