LAHIR
(Seri: Gadis Sunyi)
By: Arrin Maescha Putri
Bertanyalah sekaliannya
tentang kisahku.
Kisah sunyi sederhana yang lahir dari
bidadari berdaki.
Pada saat itu...
Bulan purnama pucat di langit,
benderang diantara kelam
dan hitamnya semesta.
Di bawahnya, pada bukit-bukit sampah di muka gubuk
depan rumahku, Bapak risau
mondar-mandir.
Di ruang dalam, dari balik tirai kelabu
nan usang, aku gelisah
takut jadi derita.
Mata bidadariku semakin merah,
semakin basah.
Peluh meluruhkan dosanya,
begitu kata Tuhan.
Dunia kini menjadi dekat sekali depan mata.
Aku LAHIR
bersama derita.
Samar kemerahan dan anyir
masih mengalir sunyi.
Seolah aku ini mati
kalau saja tidak bernapas.
Kulihat...
Bulir lain bukan peluh
disana, di mata bidadariku.
Masih sunyi.
Aku LAHIR
bersama derita dan
gema ketukan pintu.
#Seri ke-2
benderang diantara kelam
dan hitamnya semesta.
Di bawahnya, pada bukit-bukit sampah di muka gubuk
depan rumahku, Bapak risau
mondar-mandir.
Di ruang dalam, dari balik tirai kelabu
nan usang, aku gelisah
takut jadi derita.
Mata bidadariku semakin merah,
semakin basah.
Peluh meluruhkan dosanya,
begitu kata Tuhan.
Dunia kini menjadi dekat sekali depan mata.
Aku LAHIR
bersama derita.
Samar kemerahan dan anyir
masih mengalir sunyi.
Seolah aku ini mati
kalau saja tidak bernapas.
Kulihat...
Bulir lain bukan peluh
disana, di mata bidadariku.
Masih sunyi.
Aku LAHIR
bersama derita dan
gema ketukan pintu.
#Seri ke-2
0 comments:
Post a Comment