Tuesday, 21 January 2014

Jejak "Evolusi"

....

Pergumulan awan mendung yang berenang lambat di langit, lantas berubah menjadi partikel-partikel air yang berhasil membuat cabang-cabang pohon basah kuyup, menyegarkan rerumputan yang membasahi kaki-kaki telanjang, bersekutu pada udara membuat hawa semakin menusuk, dan mengalir bersama sungai berbatu dengan irama gelombang yang bersemangat.
Setiap tempat bernuansa alam senantiasa memiliki pesona yang menarik minat para pecinta alam maupun para peneliti, begitupula dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang merupakan salah satu taman nasional yang di deklarasi oleh Pemerintah Indonesia pada 1980. Taman Nasional ini berperan penting dalam sejarah konservasi di Indonesia. Seperti halnya kawasan konservasi lainnya di Indonesia, pengelolaan kawasan Taman Nasional Gede Pangrango merupakan tanggungjawab dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.                    
Konservasi alam, suatu ikhtiar mutlak yang menjadikan alam ini berfungsi sebagaimana mestinya tanpa mengurangi nilai estetika yang terkandung di dalamnya. Nilai estetika, baik biotik maupun abiotik, dalam sudut pandang yang berbeda mampu menjadi potret yang menawan demi membuka nurani bahwa alam masih menyembunyikan rahasia keindahannya, menciptakan kekayaan perspektif terhadap suatu fokus. Diantara kerimbunan semak, perdu dan pohon-pohon menjulang yang terkadang membentuk kanopi, disana ada kehidupan liar yang sering kali menampakkan teatrikal yang memukau. Layaknya waktu yang terus berputar, latar silih berganti, beragam pula fauna-fauna yang tertangkap mata walaupun hanya sekejap.
Beruntunglah langit cerah menyelinap diantara kemendungan Mega Mendung. Beruntung pula di Taman Nasional yang terkenal akan berbagai jenis burungnya, seekor Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) tanpa malu-malu menunjukkan rupanya. Terbang melayang, berputar-putar, membentangkan sayapnya yang lurus —sedikit membentuk huruf V— dengan ujung-ujung sayapnya yang menjari. Elang Hitam memiliki sayap dan ekor yang panjang. Seluruh tubuhnya berwana hitam, kecuali kaki dan sera yang berwarna jingga-kekuningan. Sistem terbang elang berbeda dengan jenis burung lainnya. Elang memanfaatkan panas bumi, semakin panas, mereka terbang semakin tinggi. Kita bisa mendengar bunyi meratap Elang Hitam yang berulang-ulang….
Kliii-ki... kliii-ki
Jejak-jejak boots masih terlihat jelas dan semakin menumpuk pada jalan setapak tanah yang lunak dan basah, seolah memberi tanda bahwa dalam langkah para “Evolusi” tergores pula sketsa dan identifikasi sederhana yang akan membawa “Kami” untuk membuka gulungan buku hingga terpampang seluruh ilmu yang telah dinantikan. Ilmu yang kelak membawa perubahan tentang bagaimana kita seharusnya memandang alam seperti alam yang mengharapkan perhatian kita.
Di daerah hutan hujan tropis seperti Taman Nasional Gede Pangrango, tersebar Pulus (Laportea stimulans, syn. Dendrocnide stimulans syn. Urtica stimulans). Pinggir daun mudanya bergerigi, bagian atas dan pinggir daun ditumbuhi bulu-bulu halus yang apabila tersentuh bagian kulit yang sensitive, dapat menimbulkan rasa gatal dan perih seperti terbakar. Penangkal sengatan Pulus yakni Alocasia macrorrhiza tanaman talas yang tumbuh tidak jauh dari tempat Pulus tumbuh.
Ilmu botani memberi pemahaman bahwa ada dan banyak tanaman yang juga mampu dimanfaatkan, seperti; pegangan, nangka hutan, arbei, pakis, pisang, rotan, lumut pohon dan sebagainya.
Lambat laun Sang Surya tenggelam ditelan kabut kelam Senja. Sorot senter mulai ramai menembus dedaunan yang rapat-renggang. Putih dan jingga kemerahan.
Klik...
Tak ada lagi sorot senter. Gelap. Hutan di malam hari sepintas hanyalah siluet-siluet pepohonan dan pakis yang tidak menarik. Namun, saat salah satu indera kita lemahkan, maka indera yang lain akan semakin peka.
Dalam mata yang terpejam, suara-suara hewan bersahutan seakan memanggil untuk bermain, seakan meminta untuk dilindungi dan dilestarikan keeksisannya. Saat kelopak mata terbuka, akhirnya kita sadar bahwa alam masih menyimpan misteri. Sebuah batang yang bukan apa-apa, menjadi apa-apa saat gelap datang. Layaknya lightstick, sinar kebiruan terpancar dari aktivitas lumut disana.
Tik.. tok.. tik... tok.
Detik jam terus bergerak. Dahan-dahan yang lebar membiaskan cah-anaya matahari bagaikan permata hijau yang memesona sebagai hasil kontras dari langit yang biru. Ow-oh, lagi-lagi awan kelabu datang seolah tidak ingin diabaikan kehadirannya.
Rintikan hujan pun tidak mampu memadamkan bara para “Evolusi” yang bergejolak, terlalu merah. Pijakan kaki semakin menguat, otot-otot bisep dan trisep menyempurnakan pijakan, menarik-narik apapun yang bisa ditarik untuk mendaki.
Suara katak, burung dan tonggeret terngiang di telinga, layaknya alunan alami, sambutan dari alam. Tiga ekor tupai berlari cepat di batang tertinggi membawa makanan mereka. Ekor yang melengkung bagaikan refleksi tanda tanya, berbulu lebat, warna abu-abu-kecokelatan tampak dominan.
Dari beberapa fauna yang dijabarkan, berhati-hatilah karena pacet akan setia di tubuhmu bahkan di bagian yang tidak terlihat sekalipun. Waspadalah! Waspadalah!
©Salam Fauna dari Mega Mendung untuk yang Hatinya Mendung, hehe.©
By: Arrin Maescha Putri | TN_10 | Tenda 4 |

1 comments: