Pergumulan awan mendung yang berenang lambat di langit,
lantas berubah menjadi partikel-partikel air yang berhasil membuat
cabang-cabang pohon basah kuyup, menyegarkan rerumputan yang membasahi
kaki-kaki telanjang, bersekutu pada udara membuat hawa semakin menusuk, dan
mengalir bersama sungai berbatu dengan irama gelombang yang bersemangat.
Setiap tempat bernuansa alam senantiasa memiliki pesona
yang menarik minat para pecinta alam maupun para peneliti, begitupula dengan
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang merupakan salah satu taman nasional
yang di deklarasi oleh Pemerintah Indonesia pada 1980. Taman Nasional ini
berperan penting dalam sejarah konservasi di Indonesia. Seperti halnya kawasan
konservasi lainnya di Indonesia, pengelolaan kawasan Taman Nasional Gede
Pangrango merupakan tanggungjawab dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Konservasi alam, suatu ikhtiar mutlak yang menjadikan alam
ini berfungsi sebagaimana mestinya tanpa mengurangi nilai estetika yang
terkandung di dalamnya. Nilai estetika, baik biotik maupun abiotik, dalam sudut
pandang yang berbeda mampu menjadi potret yang menawan demi membuka nurani
bahwa alam masih menyembunyikan rahasia keindahannya, menciptakan kekayaan
perspektif terhadap suatu fokus. Diantara kerimbunan semak, perdu dan
pohon-pohon menjulang yang terkadang membentuk kanopi, disana ada kehidupan liar
yang sering kali menampakkan teatrikal yang memukau. Layaknya waktu yang terus
berputar, latar silih berganti, beragam pula fauna-fauna yang tertangkap mata
walaupun hanya sekejap.
Beruntunglah langit cerah menyelinap diantara kemendungan
Mega Mendung. Beruntung pula di Taman Nasional yang terkenal akan berbagai
jenis burungnya, seekor Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) tanpa malu-malu
menunjukkan rupanya. Terbang melayang, berputar-putar, membentangkan sayapnya
yang lurus —sedikit membentuk huruf V— dengan ujung-ujung sayapnya yang
menjari. Elang Hitam memiliki sayap dan ekor yang panjang. Seluruh tubuhnya
berwana hitam, kecuali kaki dan sera yang berwarna jingga-kekuningan. Sistem
terbang elang berbeda dengan jenis burung lainnya. Elang memanfaatkan panas
bumi, semakin panas, mereka terbang semakin tinggi. Kita bisa mendengar bunyi
meratap Elang Hitam yang berulang-ulang….
Kliii-ki... kliii-ki
Jejak-jejak boots masih terlihat jelas dan semakin menumpuk
pada jalan setapak tanah yang lunak dan basah, seolah memberi tanda bahwa dalam
langkah para “Evolusi” tergores pula sketsa dan identifikasi sederhana yang akan
membawa “Kami” untuk membuka gulungan
buku hingga terpampang seluruh ilmu yang telah dinantikan. Ilmu yang kelak
membawa perubahan tentang bagaimana kita seharusnya memandang alam seperti alam yang mengharapkan perhatian kita.
Di daerah hutan hujan tropis seperti Taman Nasional Gede
Pangrango, tersebar Pulus (Laportea stimulans, syn. Dendrocnide
stimulans syn. Urtica stimulans). Pinggir daun mudanya bergerigi, bagian atas dan pinggir
daun ditumbuhi bulu-bulu halus yang apabila tersentuh bagian kulit yang
sensitive, dapat menimbulkan rasa gatal dan perih seperti terbakar. Penangkal
sengatan Pulus yakni Alocasia macrorrhiza tanaman talas yang tumbuh tidak jauh dari tempat Pulus
tumbuh.
Ilmu botani memberi pemahaman bahwa ada dan banyak tanaman
yang juga mampu dimanfaatkan, seperti; pegangan, nangka hutan, arbei, pakis,
pisang, rotan, lumut pohon dan sebagainya.
Lambat laun Sang Surya tenggelam ditelan kabut kelam Senja.
Sorot senter mulai ramai menembus dedaunan yang rapat-renggang. Putih dan
jingga kemerahan.
Klik...
Tak ada lagi sorot senter. Gelap. Hutan di malam hari
sepintas hanyalah siluet-siluet pepohonan dan pakis yang tidak menarik. Namun,
saat salah satu indera kita lemahkan, maka indera yang lain akan semakin peka.
Dalam mata yang terpejam, suara-suara hewan bersahutan
seakan memanggil untuk bermain, seakan meminta untuk dilindungi dan
dilestarikan keeksisannya. Saat kelopak mata terbuka, akhirnya kita sadar bahwa
alam masih menyimpan misteri. Sebuah batang yang bukan apa-apa, menjadi apa-apa saat gelap datang.
Layaknya lightstick, sinar kebiruan
terpancar dari aktivitas lumut disana.
Tik.. tok.. tik... tok.
Detik jam terus bergerak. Dahan-dahan yang lebar membiaskan
cah-anaya matahari bagaikan permata hijau yang memesona sebagai hasil kontras
dari langit yang biru. Ow-oh,
lagi-lagi awan kelabu datang seolah tidak ingin diabaikan kehadirannya.
Rintikan hujan pun tidak mampu memadamkan bara para “Evolusi” yang bergejolak,
terlalu merah. Pijakan kaki semakin menguat, otot-otot bisep dan trisep
menyempurnakan pijakan, menarik-narik apapun yang bisa ditarik untuk mendaki.
Suara katak, burung dan tonggeret terngiang di telinga, layaknya alunan alami,
sambutan dari alam. Tiga ekor tupai berlari cepat di batang tertinggi membawa
makanan mereka. Ekor yang melengkung bagaikan refleksi tanda tanya, berbulu
lebat, warna abu-abu-kecokelatan tampak dominan.
Dari beberapa fauna yang dijabarkan, berhati-hatilah karena
pacet akan setia di tubuhmu bahkan di bagian yang tidak terlihat sekalipun.
Waspadalah! Waspadalah!
©Salam Fauna dari Mega
Mendung untuk yang Hatinya Mendung, hehe.©
By: Arrin Maescha Putri | TN_10 |
Tenda 4 |
Lestari Alamku, Lestari Flora & Faunaku
ReplyDelete