Saturday, 12 July 2014

Pee Mak Phra Khanong


Mario Maurer sebagai Mak
Davika Hoorne sebagai Nak
Kantapat Permpoonpatcharasuk sebagai Aey
Nuttapong Chartpong sebagai Ter
Wiwat Kongrasri sebagai Shin
Pongsathorn Jongwilak sebagai Puak

Kisah ini terjadi di pertengahan abad ke-19 di Siam, selama era raja Mongkrut dan pada puncak Dinasti Rattanakosin.
Bicara mengenai perfiilman horor di Thailand, nama Banjong Pisanthanakun memang sudah begitu melekat. Sutradara yang satu ini memang telah banyak membuat film-film horor yang hebatnya masing-masing film tersebut layak disebut sebagai film horor terbaik yang pernah dihasilkan Thailand mulai dari Shutter, Alone, hingga saat ia membuat masing-masing satu segmen dalam dua film Phobia. Bahkan Banjong juga terlibat dalam proyek The ABC's of Death tahun lalu. Sekarang disaat industri perfilman Thailand mulai beralih tren menjadi komedi romantis, Banjong tetap bisa menelurkan film yang berkualitas dan digemari lewat  sebuah komedi romantis berjudul Hello Stranger. Empat tahun sejak Phobia 2 dan enam tahun semenjak Alone yang menjadi film horor panjang terakhirnya, Banjong kembali ke ranah tersebut lewat Pee Mak yang merupakan adaptasi dari Nang Nak yang merupakan cerita rakyat Thailand. Tapi dengan berani Banjong menambahkan unsur komedi yang begitu kental dalam film ini termasuk memunculkan kembali Aey, Ter, Shin dan Puak yang sebelumnya sukses mengocok perut di dua film Phobia.

Saat itu Mak (Mario Maurer) bersama kuartet bodoh Aey, Ter, Shin dan Puak sedang berada di medan perang. Mak meninggalkan istrinya Nak (Davika Hoorne) yang tengah hamil tua di Phra Kanong yang tidak jauh dari central Bangkok. Mak mengalami luka di dada selama pertempuran, sehingga dikirim ke camp.medis. Nah, di sanalah ia bertemu dengan Ter, Aey, Shin, dan Puak, yang akhirnya menjadi sahabat baik.

Setelah adegan pembukanya yang cukup meyakinkan bahwa Pee Mak merupakan film horor yang menyeramkan, saya langsung "dikejutkan" saat tone film berubah 180 derajat disaat kita dibawa melihat kondisi peperangan. Melihat potongan rambut menggelikan para karakternya, gigi-gigi mereka yang entah mengapa hitam begitu, hingga obrolan yang (maunya) memantik semangat juang namun diselipin referensi film-film macam 300, Rocky hingga The Last Samurai padahal filmnya ber-setting jauh sebelum benda bernama film eksis saya langsung sadar bahwa daripada Shutter film ini akan lebih mirip segmen Man in the Middle ataupun In the End. Bahkan pada akhirnya porsi komedi yang mayoritas dibebankan pada kuartet konyol tersebut jauh lebih besar daripada porsi horornya sekalipun. Mungkin Pee Mak sejak awal sudah berlabel horor-komedi namun pada akhirnya saya merasa film ini lebih tepat disebut parodi. Karena akhirnya pun momen seram yang ditampilkan seringkali berakhir lucu berkat keempat tokoh tersebut. Saya yang berharap mendapat sajian horor mengerikan pada awalnya sedikit kecewa tapi perlahan saya pun terpuaskan saat humor konyolnya selalu tepat sasaran dan membuat saya tertawa terbahak-bahak tidak hanya sekali dua kali namun berkali-kali.

Well, balik lagi ke plot. Setelah Puak berkoar-koar memberi semangat juang yang super absurd, mereka semua pun berperang. Namun, sayang sekali... tim musuh punya pistol, sedangkan mereka hanya berharap pada pedang mereka. Beruntung, mereka berlima selamat karena berlindung di dalam parit. Sementara itu di Phra Khanong, Nak berjuang sendirian untuk melahirkan bayinya. Tidak lama setelah itu, warga desa sering mendengar lagu pengantar tidur yang dinyanyikan Nak untuk bayinya. Hal tersebut membuat seluruh warga desa meringkuk ketakutan. Desas-desus mulai beredar bahwa Nak sudah meninggal dalam persalinan dan hantu Nak bergentayangan.

Setelah perang berakhir, Mak mengajak teman-temannya kuartet bodoh untuk menginap di Phra Khanong. Kebetulan, di seberang rumah Mak terdapat rumah bekas bibinya yang sudah meninggal. Ternyata, keempat teman-teman Mak terpesona oleh kecantikan Nak yang berkulit putih mulus. Keesokan harinya, mereka berlima pergi ke pasar lokal untuk mencari pekerjaan dan membeli persediaan makanan, tapi para pedagang yang mereka datangi justru melarikan diri karena rumor tentang Nak. Finally, mereka berlima mengunjungi warung minuman keras. Di toko tersebut, pemilik (bibi Priak) mencoba memberitahu Mak tentang rumor istrinya, tapi ditahan oleh keponakannya, Ping.

Sebelumnya, saat mereka hendak ke pasar, mereka melihat perahu yang berisi penuh mayat akibat peperangan yang terjadi waktu itu. Selain itu, Shin melihat Nak yang berdiri di balik jendela dengan tatapan lain, Shin mencoba tersenyum, tapi Nak diam saja.

Pada malam harinya, keempat kuartet bodoh yang sedang minum-minum, dikejutkan dengan pernyataan Shin yang menganggap bahwa Nak adalah hantu. Tapi, ketiga temannya tidak ada yang percaya. Shin tertidur dan memimpikan kejadian yang membuktikan bahwa Nak adalah hantu dan saat ia terbangun... Deja Vu! Mimpi itu menjadi kenyataan, namun dikemas lebih lucu. Shin diperintahkan oleh ketiga temannya untuk mengajak Mak bergabung, karena emang sial, Shin melihat Nak melahirkan bayinya sambil berdiri. Iuuuwh.

Keesokan harinya, saat Ter sedang buang air besar di halaman belakang, Ter melihat mayat yang mengenakan cincin batu ruby. Ter pun berlari dan secara tidak sengaja menjatuhkan sarang lebah. Alhasil begini deh mukanya...
Ter menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya dan mulai mempercayai Shin kalau Nak sebenarnya hantu. Tapi, karena mukanya bengkak begitu, perkataan Ter jadi sulit dimengerti. Ter akhirnya berinisiatif mencari secarik kertas bekas, kuas, dan tinta. 
"Hantu"
Puak dan Aey pun kini mempercayai kalau Nak memang hantu. Tiba-tiba Mak datang dan melihat secarik kerta yang dipegang oleh teman-temannya. Mak berhasil merebut kertas tersebut. Tapi, hujan melunturkan kalimat yang ditulis Ter menjadi...
"Jorok"
Mungkin dalam bahasa  Thailand, hantu dan jorok agak mirip kali, ya.

Kuartet bodoh tidak ingin Mak terus-menerus berhubungan dengan hantu. Mereka akhirnya berkemas dan berniat mengajak Mak untuk ikut dengan mereka. Akhirnya Ter dan Shin datang untuk memberitahu Mak bahwa istrinya adalah hantu. Ketika Ter dan Shin sedang otw naik sampan, datanglah Ping memberitahu bahwa bibinya, Priak, telah dibunuh oleh Nak karena mencoba memberitahu kepada Mak kalau Nak adalah hantu. Buru-Buru Aey dan Puak pun menyusun Ter dan Shin. Untung saja keduanya belum mengatakan yang sebenarnya.

Ketika hendak kembali, Nak menahan mereka untuk makan malam bersama. Ternyata, makanannya super nggak layak! Daun kering dan ulat. Mau nggak mau, mereka dipaksa untuk mencicipinya. Kasihan Shin yang harus makan ulat. Hahaha. Shin juga yang mencium anak Mak, karena kata yang lain, Shin suka dengan anak-anak. Selesai makan, mereka berbisik-bisik. Mak salah sangka, Mak mengira kalau keempat temannya ingin main tebak kata. Di sini lucu banget!!
Di permainan itu, Ter memperagakan sesuatu dan Shin menebak dengan benar. Yaitu "Ada hantu pakai kaos". Karena jawabannya benar, mereka pun bersorak sebelum akhirnya sadar apa yang telah mereka perbuat :'(

Mak marah karena istrinya disebut-sebut hantu. Nak menjelaskan kalau saat Mak berperang, Ping merayunya, namun Nak menolaknya. Sehingga Ping menyebarkan gosip yang tidak-tidak kepada seluruh warga desa. Agar istrinya tidak kecewa, Nak mengajak Mak jalan-jalan ke pasar malam, membeli lolipop, bermain lempar bola ke kaleng, naik komedi putar, dan masuk rumah hantu. Di rumah hantu inilah keempat kuartet bodoh menculik Mak.
Mak marah karena telah dipisahkan dari Nak oleh teman-temannya. Mak pun pergi, tapi luka di dadanya kambuh. Ia pun berteriak minta tolong, tapi Ter mengira jangan-jangan Mak-lah yang sebenarnya hantu, karena ia juga memiliki cincin kawin ruby yang sama seperti mayat di halaman belakang. Ter pun melemparkan beras suci ke arah Mak, sehingga Mak berteriak seperti hantu yang kesakitan.

Keempat kuartet bodoh akhirnya menjemput Nak untuk kabur meninggalkan Phra Khanong. Nak khawatir dengan keberadaan Mak yang tidak ada di antara mereka. Tapi, sampan nyaris tenggelam, akhhirnya mereka melempar semua benda tak berguna dari sapan termasuk dayung. Bodoh.
Tiba-tiba Mak datang. Semuanya panik. Tapi, Mak tenggelam karena tidak bisa berenang. Hantu tidak mungkin tenggelam, jadi Mak bukan hantu.

Ter memikirkan. Jadi, siapa yang hantu?
Aey pun menjatuhkan cincin ruby yang dicurinya dari mayat di halaman belakang untuk berjudi. Teman-teman lainnya salah paham sehingga menendang Aey ke sungai. Saat hendak mendayung, mereka kebingungan karena dayung telah mereka buang. Tapi, dari belakang ada yang memberikan dayung. Loh, gimana bisa? Akhirnya Ter mengintip di antara kakinya dan mendapati kalau Nak-lah yang hantu.
Mak, Shin, Puak, dan Ter akhirnya berlindung di kuil Buddha dengan seorang biksu. Namun karena panik Nak datang, mereka menumpahkan semua air suci dan bodohnya Shin memberikan seluruh beras suci untuk pakan burung. Lingkarang keamanan cincin pun rusak. Biksu lari tunggang langgang karena ketakutan. Tiba-tiba juga Aey datang. Mau maju ada Nak, mundur ada Aey. Karena Nak terus maju, mereka pun mundur dan menabrak Aey.

Nak marah kepada mereka berempat karena terus mengusik hidupnya dan mencoba memisahkan Mak darinya. Nak juga mengklarifikasi kalau ia tidak membunuh bibi Priak, tetapi bibi Priak jatuh ke sungai karena mabuk. Saat itu, Mak juga mengungkapkan bahwa ia juga sudah tahu kalau Nak adalah hantu. Mak mengintip di antara kedua kakinya ketika usai bermain tebak gaya. Mak juga menemukan mayat Nak di halaman belakang. Tapi, cinta Mak untuk Nak terlalu besar sehingga Mak tetap ingin bersama Nak. Cinta mereka pun berlanjut.
Kuartet bodoh pun merasa terharu oleh cinta Mak dan Nak. Mereka juga akhirnya tinggal bersama. Ternyata Nak hantu yang baik.

0 comments:

Post a Comment