Saturday, 1 February 2014

Aku Memilih Setia


Halo... halo... this is captain speaking! Hehe..
This is it! My second Anthology.
Cerpen-cerpen di antologi "Aku Memilih Setia" merupakan cerpen yang terinspirasi dari lagu Fatin.

Jadi, begini ceritanya.
Pada suatu hari, seorang putri yang nyaris menjadi putri sedang mager banget. Eh, Si Putri yang nyaris jadi putri tersebut iseng-iseng ikutan lomba cerpen. Yah, walaupun penerbit Indie. Si Putri tidak berpikir sama sekali tentang "uang", "menang", apalagi "terkenal". Ia hanya tau, bagaimana meluapkan cerita-cerita yang mendengung di telinganya.

Well, Si putri itu gue. Hahahaha.
Eh, nggak nyangka, jadi naskah terbaik. 

Berhubung penerbitnya adalah penerbit Indie, jadi yang mau pesan bisa hubungi nomor yang tercantum di cover. Happy reading!

Thursday, 30 January 2014

Lahir


LAHIR
(Seri: Gadis Sunyi)
By: Arrin Maescha Putri

Bertanyalah sekaliannya
tentang kisahku.
Kisah sunyi sederhana yang lahir dari
bidadari berdaki.

Pada saat itu...
Bulan purnama pucat di langit,
benderang diantara kelam
dan hitamnya semesta.

Di bawahnya, pada bukit-bukit sampah di muka gubuk
depan rumahku, Bapak risau
mondar-mandir.

Di ruang dalam, dari balik tirai kelabu
nan usang, aku gelisah
takut jadi derita.

Mata bidadariku semakin merah,
semakin basah.
Peluh meluruhkan dosanya,
begitu kata Tuhan.

Dunia kini menjadi dekat sekali depan mata.
Aku LAHIR
bersama derita.

Samar kemerahan dan anyir
masih mengalir sunyi.
Seolah aku ini mati
kalau saja tidak bernapas.

Kulihat...
Bulir lain bukan peluh
disana, di mata bidadariku.
Masih sunyi.

Aku LAHIR
bersama derita dan
gema ketukan pintu.

#Seri ke-2

Tuesday, 28 January 2014

Bebas


BEBAS
(seri: Gadis Sunyi)
By: Arrin Maescha Putri

Di ujung cakrawala aku seolah menyepi,
menilik jauh sambil mengusap muka.

Hanya menemukan langit kosong
seperti kemarin,
dengan hati masih risau
oleh satu kata.

BEBAS

Mataku nanap gemetar memandang
arti yang masih samar.

BEBAS
tidak terbatas,
namun penuh batasan.
Bukankah setiap insan dilahirkan untuk BEBAS?

Sekarang...
Langit yang kulihat seolah runtuh
di atas kepala.
Masih ingin aku berpacu dengan angin,
tapi waktuku telah habis.

Hantaman menyisakan memar biru di wajahku,
dan sekujur tubuhku.
Masih kuingat,
tangan kasar yang merenggut Ibu.
Tangan yang sama pula
yang kini nyaris merenggutku.

Entah apa salah kami.
Aku tidak bisa memadahkannya.
Aku tidak bisa
bicara.

Sekarang...
Raga lemah ini
terbaring di antara gubuk-gubuk bersampah.
Noktah-noktah merah
menghiasi pakaianku yang putih.

Sekarang...
semakin samar.
Aku hanya melihat senyumnya,
menyiratkan makna lain
seolah BEBAS.

Pada saat ini...
bersama tamparan terakhir,
aku merasa...
... BEBAS.

#Seri ke-1