Friday, 8 August 2014

Rizky; Teman Kecil yang Super Ganteng

Gue lupa ketemu Rizky pas kelas berapa. Dia saudara dari tetangga baru di kontrakkan berderet gue. Waktu itu, adik gue––Nafis, udah lahir dan sering main sama balita––saudaranya Rizky––yang namanya gue lupa. Mari kita deskripsikan betapa tampannya Rizky sampai-sampai semua anak seusia gue dan yang lebih tua dari gue selalu mencari perhatiannya.

Rizky.
Rambutnya hitam legamnya dipotong rapi berponi menaungi alis tebal yang senada dengan warna rambutnya. Matanya besar dan cokelat menenangkan. Kulitnya putih dan walaupun dia laki-laki, bibirnya merah.

Rizky lahir dari ibu beragama Kristen dan ayah beragama Islam. Karena dia tetangga gue––maksudnya, dia sering main ke rumah saudaranya––jadi, kami cukup akrab. Rumah aslinya juga nggak terlalu jauh dari rumah gue.

Kalau gue dan anak-anak yang lain main galaxy, gue pasti ngejagain dia terus. Habisnya ganteng banget sih, jadi secara sadar maupun tidak sadar, kaki gue selalu melangkah ke arahnya––anjaaaass gile. Apalagi kalau main nenek gerondong yang minta ubi. Gue pasti duduk di belakangnya supaya bisa megang-megang badannya yang walaupun masih kecil, sudah bisa dibayangkan kalau besar nanti bakalan segagah Robert Pattinson. 

Gue dan Rizky sering berbagi makanan, makan bareng, cerita-cerita soal kenakalan kami (gue lebih tepatnya) yang selalu dia jawab "You should just say you're sorry." dan gue mengangguk kecil sambil senyum-senyum, padahal dalem hati I would rather die. Well, Rizky adalah laki-laki yang bijaksana––waktu itu. Kalau dilihat-lihat tuh gue sama Rizky kayak pangeran tampan dan beruk hutan lagi main. Gue adalah bocah kecil hitam, dekil, nakal, dan nggak pernah nyisir rambut.

Suatu ketika––gue lupa, ini bulan Ramadhan atau bukan––dia bilang kalau dia mau SHOLAT! Gue syok. Sumpah beneran syok. Setahu gue, dia beragama Kristen dan pergi ke gereja. Tapi, karena dia minta ke gue buat ngajarin dia sholat, akhirnya gue bawa dia ke mesjid.

Arrin kecil bisa apasih Sholat juga belum khusyuk. Pas Rizky lagi sholat, gue ngintip-ngintip. Si Rizky juga nengok-nengok ke belakang. Terus gue senyumin aja. Hahaha. Tapi, gue nggak berani nanya kenapa dia mau sholat dan gue juga nggak tahu apakah dia masih pergi ke gereja atau nggak.

Kemudian, karena gue harus pindah rumah ke Bekasi––waktu itu kenaikan kelas dari kelas 2 ke kelas 3––jadi, gue nggak pernah ada kontak lagi sama Rizky. Sama sekali. Sampai sekarang. Gue nggak tahu sekarang fisiknya dia kayak gimana? Agamanya apa? Dia masih tinggal di Jakarta Utara (Belakang Kantor Pos, Jalan Swasembada) atau enggak? Gue nggak tau semuanya.....
Sekian.

Monday, 4 August 2014

Dosa Susu Kotak


Welcome Sekolah Dasar. Gue lupa, waktu itu gue masuk SD karena tangan kanan gue bisa nyentuh kuping kiri lewat atas kepala––kebayang, kan––atau karena ada tes masuk. 

Oh iya, sebelumnya perkenalkan Reni dan Andri. Mereka adalah sahabat terbaiiik gue sampai sekarang. Kita sudah berteman sejak masih dalam kandungan. Telepati. Kita satu TK, satu TPA, dan satu SD, serta satu motor berangkat ke sekolah bareng. Supirnya papah gue.

Kelas satu, kita sekelas. Karena rambut gue yang dipotong kayak cowok dan muka gue yang sangar sejak lahir, gue pun dikira cowok. Beruntung ada sesi perkenalan diri. Kelas satu, kalau nilai gue bukan seratus, pasti mamah men-judge gue becanda selama pelajaran. Don't judge your daughter by cover, Mom. Akhirnya gue belajar sampai malam hanya demi mendapatkan nilai seratus di semua mata pelajaran. Berkat mamah gue inilah, gue terpilih mengikuti lomba calistung mewakili Sekolah Dasar Negeri Kebun Bawang 05 Pagi. Kalau malem jadi Sekolah Drakula Ngesot Kebun Bawang 05 Malam––hahhaa, garing.

Sejak kelas satu, gue paling nggak bisa pelajaran kesenian, bab melipat kertas. Gue akhirnya nangis aja karena nggak bisa melipat kertas menjadi kodok dan burung. Monster of Jakarta nangis? Ya, lo pikir aja. Gue masih monster kecil ingusan. 

Ada soal yang paling gue benci waktu SD. Gue lupa siapa nama guru yang mendidik gue di kelas satu. Tapi, gue inget, gue benci banget sama soal ini:

Bersatu kita teguh, bercerai kita....

Gue jawabnya rapuh. Karena gue waktu itu sama sekali nggak tahu jawabannya. Gue belum pernah denger sebelumnya. Akhirnya berdasarkan kamus definisi ala gue, gue mengartikan kalau perceraian pasti membuat setiap hati rapuh––pemikiran keren.

Kelas dua, kita bertiga 'akhirnya' sekelas lagi karena Andri tidak ingin berpisah dengan gue dan Reni––anjaaas. Akhirnya, ibu kita bertiga membujuk pak kepala sekolah untuk mengizinkan supaya Andri bisa sekelas lagi sama kita bertiga. Ibu-ibu kita kayak Charlie's Angels.

Di kelas dua, gue pun berulah lagi. Waktu itu, setiap hari kamis biasanya dibagiin susu kotak gratis. Berhubung gue punya kulkas baru dan susu yang dibekukan rasanya tiga koma empat belas kali lebih nikmat, the devil inside my head has spoken, akhirnya gue pun berulah.

Si X lagi sibuk ngobrol sama temennya. Gue akhirnya mencuri susu kotak si X Kegiatan mencuri susu kotak X ini gue lakukan sebulan sekali sampai akhirnya pembagian rapor kenaikan kelas tiba. Oh iya, alasan gue ke orang tua tentang mendapat susu dua adalah karena ibu guru sayang sama gue, makanya gue dikasih susu lebih.

Saat pembagian rapor kenaikan kelas, mamah ketemu dengan ibunya X dan mereka ngobrol. Dari jarak yang nggak lumayan jauh, gue nguping. Gini percakapan mereka;

Mamah: Gimana anak lo? Ranking berapa?
Ibunya X: Ya Alhamdulillah sepuluh besar.
Mamah: Ranking satu sih Alhamdulillah.
Ibunya X: Anak lo dari kelas satu ranking satu juga, kan? Lo kasih makan apa?
Mamah: Dia mah bangke cicek aja dimakan––yang ini bohongan, gue lebay aja. 

Jadi, omongan sebenarnya mamah gue adalah "ya... biasa aja. Tapi, kelas dua ini anak gue tiap kamis minggu terakhir pasti bawa pulang susu dua." Dan... mamahnya X pun menjawab.... (matilah gue, tindak kriminal gue terbongkar)... "Kalau si X sih susu nggak terlalu suka. Paling dikasih ke temennya."

Ternyata, X tidak terlalu suka susu! Kalau begitu mendingan gue minta ajaaa dari dulu. Buat siapa pun yang merasa sebagai X temen SD gue, dan punya bukti kuat. Tolong comment. Hahahaha.