****
Selasa, 28 Agustus 2013
Kediaman
Reno, pukul 20.45. Gerimis.
Reno
duduk lemah, menyibakkan rambut gondrong berantakan dari matanya, membaca pesan
yang tertulis di kertas merah muda bergambar babi disana sini, ada anak babi,
babi bunting, sampai babi menopause.
Reno sayang,
Aku tahu kamu pasti marah, kenapa tiba-tiba aku minta
putus. Jangan salah paham dulu! Semua ini nggak ada sangkut pautnya sama
reputasi aku yang menurun drastis di kampus semenjak pacaran sama alien macam
kamu. Bukan! Yah, walaupun bulu idung kamu selalu ngeksis di luar goanya,
walaupun rambut kamu kayak ijuk, walaupun style kamu lebih mirip gelandangan
yang diterlantarin negara, kamu tetep
ranking satu dihati aku. Pacaran sama kamu lebih seru dari keseruan di jumanji.
Nafas kamu juga wangi banget. Apalagi, muka kamu yang agak arab itu selalu
ngingetin aku buat dzikir. Sayangnya, orang tua aku udah ngejodohin aku sama
Joni. Aku nggak bisa nolak perjodohan ini. Kamu tau kan, bokap aku kayak apa?
Salam sayang,
Fevi
Reno butuh waktu untuk mencerna
kenyataan tersebut. Jakunnya naik turun tidak karuan. Dia ingin berteriak, tapi
akhirnya hanya menutup mulut rapat-rapat. Dengan celana pendek dan kaus bekas
kepanitiaan jalan sehat edisi manula yang nyaris compang-camping, Reno pergi ke
gudang, mengambil sebungkus pupuk kompos, lalu berlari ke balkon dan melempar
seluruh isinya ke jalan, seolah sedang bermain bola salju.
Pupuk kompos kualitas super.
Rasakan itu, Joni!
****
Kediaman
Reno, pukul 20.50. Masih gerimis.
Riris
berjalan membawa setoples nastar di salah satu tangannya, sementara tangannya
yang lain memegang gagang payung bening yang melindunginya dari hujan tanpa
harus kehilangan keindahan langit malam. Sampai tiba-tiba sesuatu yang lengket
dan bau mendarat mulus di payungnya. Sesuatu yang lebih legam dari langit
malam.
Mata
Riris mencari-cari si pelaku dan berhasil menangkap sesosok penampakan di atas
balkon.
“RENOOOO!”
“Wadaw! Kena si Riris lagi,” gumam
Reno panik. Mending mati saja daripada harus beradu mulut dengan lesbian
bersuara D minor dari dunia antah berantah. Omong-omong, apa sih yang dilakukan
lesbian?
“Ngapain lo bengong?! Turun lo sini!
Tunjukkin kejantanan lo!” lengking Riris.
“Iye, gue bakal turun. Tapi, gue
nggak janji kalau masalah nunjukkin kejantanan. Ini aset buat bini gue,” Reno
balas menjerit sebelum akhirnya meninggalkan balkon untuk menemui Riris si
lesbian. Pada saat itu juga, di posisi yang sama, mulut Riris ternganga
mendengar apa yang baru saja diucapkan Reno. Kalau Riris udah nganga, burung
wallet bisa buat sangkar disana.
Hanya pagar besi yang menjadi hijab
diantara mereka. Reno memasang tampang tolol dengan bibir terkatup rapat. “Apa
gue masih harus nunjukkin kejantanan gue?”
Apa?! “Iyalah! Eh,
en-enggak!” Guobloook, batinnya.
Riris
mengambil napas panjang. Lubang hidungnya menjadi dua kali lebih besar dan
kembali menyusut seiring terbuangnya karbon monoksida. Hati-hati! Hidung Riris lebih bahaya daripada knalpot metro mini. “Ngapain lo malem-malem
ngelemparin pupuk kompos?”
Reno
memutar-mutar matanya dengan wajah datar, “karena gue tau kalau wewe gombel bakal
lewat. Eh, prakiraan gue bener. Lo tau apa artinya?” Wajahnya berubah
sumringah, matanya melotot nyaris keluar. Antusias. “Gue ini Ki Joko Bodo Dos
Santos Junior!”
“Ki Joko Bodong berbibir jontor!”
timpal Riris galak.
Serta merta Reno membuka kausnya untuk
memastikan kebodongannya. Matanya terbelalak, melihat pusarnya yang bodong
beneran. Well, sebenarnya dari dulu Reno sudah tau kalau dia memang
bodong.
“Gila nih cewek, selain lesbi
matanya kayak sinar-x. Bahaya!” celetuk Reno dalam hati. Dalam gerakan cepat,
Reno menutupi ‘aset’-nya, seolah bersiap-siap menghadang tendangan pinalti.
“Nih, nastar dari nyokap gue,
special. Eng-nggak pa-ke pu-puk kom-pos,” ucap Riris stacato namun
tajam.
“Ma-ka-sih,” balas Reno. Suaranya
sengau.
Riris
kemudian balik arah meninggalkan Reno tanpa banyak bicara lagi.
Tumben
banget tuh mak lampir versi lesbi nggak banyak nyerocos, gumam Reno sembari
balik badan.
Sedetik
kemudian, Riris mengumpulkan sisa-sisa pupuk kompos di payungnya.
“Reno!”
Reno
menoleh, “ap––”
Reno
bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya, pupuk kompos sudah mendarat mulus
bagai cream malam di wajahnya. Dingin dan bau.
“Pupuk
kompos kualitas super. Rasakan itu, Reno!” Riris mengakhiri kalimatnya dengan
tawa mengerikan. Ini beneran mengerikan.
****
Rabu, 29 Agustus 2013
Toilet wanita, Fakultas Psikologi,
pukul 14.20.
Riris melihat wajahnya dari
berbagai sudut di cermin. Berminyak banget. Akhirnya, ia membubuhkan bedak
disana. Sedikit saja. Mungkin sedikit
lagi. Ah, sekalian saja banyak-banyak supaya putih. Demi Reno.
Perpekto!
Riris
sebenarnya kepingin cowoknya ––asalkan Tuhan menghendaki, dia
bukan lesbian––
setidaknya lebih normal sepuluh derajat dihadapan Tuhan dan semesta. Kalau bisa
setampan Nicholas Saputra. Kalau bisa.
“Lagi pula, gue nggak bakal punya
cowok, soalnya gue kena kutukan jelek seumur hidup dan harus masuk panti jelek,”
desahnya.
Tiba-tiba
pintu toilet berdecit.
Ow-Oh.
“Geng Pecinta Rok Sempit.” Bokong dan payudara mereka ‘sempurna’ walaupun agak over
cook dan kebanyakan garnish.
Pikiran
Riris melayang, “gue nggak punya bokong ‘menonjol’ dan bokong gue nggak mulus
sama sekali. Kayaknya harus pake SCRUB BOKONG!” Menyebalkan.
“Dori,
haruz berapa kali gue ngingetin cara jalan lo yang zuper duper nggak zekzi itu?”
ucap Zaza si ketua geng GPRS. “Lo haruz ingatz, cowok menyukai cewek yang… eeerrrr.”
Sesi menjulurkan lidahnya dalam gerakan cepat beberapa kali setelah mengerang.
Diam-diam
Riris menyimak saat Zaza memeperagakan cara jalan yang ia anggap ‘zeksi and
eerrr’ itu. Dada dibusungkan, tarik bahu ke belakang, bokong agak dinaikkan.
Begitu.
Riris
nggak tahu apakah ia harus berjalan seperti itu atau tidak, toh berjalan seperi
itu hanya bikin encok dan Reno si Mr.Bulu Hidung pun nggak akan melirik ke
arahnya.
Gue mikir apa sih?
****
Kantin
Fakultas Psikologi, pukul 14.20
“Hai... Fevi,” sapa Reno gugup.
Fevi menoleh. “Hai, Ren. Nafas
kamu… wangi… banget,” sahut Fevi lambat-lambat seolah terhipnotis, jauh lebih
dalam dari sebelumnya.
Reno terkekeh. Mengingat, setiap
bangun pagi, Reno selalu menghabiskan satu ikat kemangi. Ternyata kebiasaannya
yang dipaksakan itu cukup membantu juga. Ralat. Sangat membantu.
Monyetnya mana nih? “Sendirian aja? Boleh ikut?
Boleh ikut?” tanya Reno dengan suara yang di rendah-rendahkan supaya terdengar
macho.
“Eh, anu, itu, anunya Joni...,”
Fevi menarik lidahnya yang seperti terpelintir. “Maksudnya sama Joni.”
Gue yakin, Joni pasti lebih jelek
dari gue yang dapet angket terjelek se-kompleks. Reno menyibakkan rambut dari wajahnya. Tapi nyangkut, saking kusutnya.
Gagal tebar pesona.
Tiba-tiba angin berembus kencang.
Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki tampan dengan potongan rambut rapi
berjalan mendekati Fevi. Badannya atletis dan cara jalannya ’laki’ banget.
Joni.
Reno, sedari tadi menggigit-gigit
bibir bawahnya tanpa sadar. Matanya menjalari seluruh tubuh Joni tanpa
terkecuali ’aset’-nya.
Oke. Cukup. Reno geleng-geleng kepala. “Kayaknya
gue harus pergi dari sini,” ucap Reno sembari membalikkan badannya. Kayaknya
mending gue mati aja. Joni ganteng bingits.
“Reno,” sahut Joni. Suaranya
ngebas, nggak dibuat-buat kayak Reno.
Reno menoleh tanpa bersuara. Rambutnya
dikibas-kibaskan.
“Sebaiknya lo resletingin jins
lo sulu sebelum penghuni di dalamnya kabur.” Joni mengaitkan jarinya-jaringa,
membentuk burung.
Mata Reno kontan terbelalak. Kampret!
“Reno,” kali ini Fevi yang memanggilnya.
Ia melangkah mendekati Reno, kemudian berbisik. “Soal surat yang kemarin.
Mmm... kayaknya lo bukan lagi yang ranking satu di hati gue,” Fevi menghela
napas sesaat, “setelah dilihat-lihat, Joni ganteng banget dan...,” lagi-lagi
Fevi menggantung kalimatnya, “…gue baru sadar kalau lo jelek banget.”
Selera cewek-cewek Indonesia
rendahan banget!
****
Parkiran, pukul 15.00.
“Hei, mak lampir lesbi! Lo beli
bedak kiloan di pasar kaget? Putih banget,” seru Reno. “Nah, terus kenapa jaalan
lo juga kenapa jadi kayak bebek gitu? Itu efek sampingnya”
“Gigi
lo bunting! Ini bedak yang di tipi-tipi, yang suara pembuatnya disamarkan terus
mukanya di blur itu, loh,” sahut Riris. Loh-loh, pinggang gue kenapa jadi nggak
bisa balik?
Gawat!
“Duh..
duh kayaknya pinggang gue encok deh, nih. Bantuin gue, bantuin gue!” rengek
Riris kesakitan.
“Wadaw!
Bodo amat, dah. Eh, tapi kasian juga tuh mak lampir lesbi,” ujar Reno dalam
hati.
Reno
akhirnya turun dari motornya dan membantu Riris jalan. Reno benar-benar tahu
Riris harus di bawa ke mana.
****
Kediaman Mak Eden, pukul 16.00.
“Ini rumahnya tukang pijat apa dukun
beranak? Terisolasi banget.” Riris mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Tidak ada tetangga. “Anjir. Gue tuh encok, bukan mau aborsi.”
“Kata
emak gue, Mak Eden top banget dah,” ujar Reno sambil mengetuk pintu kayu
beberapa kali sampai seorang nenek dengan kain batik yang dililit di kepalanya
membuka pintu.
“Eh,
den Reno. Ono opo toh?”
“Temen
saya encok, Mak Eden,” jawab Reno. “Mak Eden bisa sembuhin, kan?”
“Oh,
mriki kula mantunaken.”
Reno
mendorong Riris yang sedari tadi sudah panik. “Sana masuk! Gue tunggu disini.”
Waktu
terus berputar. Berkali-kali suara teriakan dan mohon ampun terdengar dari
balik dinding kayu. Reno masih berjalan mondar-mandir di depan pintu, seolah
seorang suami yang menunggu istrinya melahirkan.
Tidak
beberapa lama kemudian, pintu terbuka.
“Gimana?”
tanya Reno.
Riris tersenyum sumringah.
“Alhamdulillah bayinya laki-laki.”
****
Jumat, 31 Desember 2013
Kediaman Reno, pukul 23.30.
Ting…tong.
Yak,
dikit lagi. Dan… ‘plung’, akhirnya. “Iya, tunggu!” teriak Reno dari wc. Buru-buru ia
cebok dan memakai celana pendeknya yang udah sobek disana-sini. Reno berjalan,
setengah berlari, menuju pintu utama.
Wohh!
Setan lesbi. Tumben, cantik banget dia malem ini.
Tanpa disadari, Reno ngiler. “Ada
apa, Ris?”
“Mau
ngucapin makasih soal pertolongan kemaren,” Riris mesem-mesem. “Nih, gue buatin
kue special buat lo. Cobain nih.”
Reno
menyeka ilernya dan langsung nyicipin cokelat buatan Riris. Kelihatannya enak.
Ternyata, rasanya kayak kamper.
“Reno…,”
Riris menghentikan kalimatnya sesaat, “…lo suka gue yang sekarang nggak?”
Banget.
“Najis!”
Kenapa
Riris bisa secantik ini? Pikir Reno. Ternyata teori evolusi
berlaku buat Riris. Monyet bisa jadi the real manusia.
Reno
berdeham. “Ris, lo mau––”
Riris
memotong, “––jadi
pacar lo?” Lalu dengan antusias ia menambahkan, “Mau!”
“Bukan!” sergah Reno. “Lo mau pulang atau gimana? Gue mau lanjutin
boker.” Lantas Reno buru-buru ninggalin Riris yang masih ternganga di tempat yang sama. Tahu sendiri kan rasanya.
Setelah
manyun-manyun dan meratapi dirinya sendiri, Riris pulang dengan hati hampa.
Mungkin gadis itu memutuskan untuk benar-benar menjadi lesbi. Sementara, Reno
boker sambil mikirin Riris. Nggak tahu kenapa, hawa kamar mandi dan Riris
menyatu banget.
Ngaco.
Reno mikirin
Riris karena penampilan Riris tadi agak cantik. Nggak biasanya Riris pakai bulu
mata palsu, meskipun itu bulu mata sepuluh ribuan. Apa Riris jatuh cinta
sama gue? Pikir Reno. Jangan-jangan Riris jodoh gue?
Kelanjutan
cerita absurd ini ditentukan oleh Reno setelah ia boker. Dan… biarkanlah hanya
Reno, Riris, dan seluruh tokoh yang ada di dalam cerita ini yang mengetahui
bagaimana kelanjutan cerita mereka.
Omong-ngomong, Reno boker lama banget. Sampai pergantian tahun.
****