Slide Title 1

Aenean quis facilisis massa. Cras justo odio, scelerisque nec dignissim quis, cursus a odio. Duis ut dui vel purus aliquet tristique.

Slide Title 2

Morbi quis tellus eu turpis lacinia pharetra non eget lectus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Donec.

Slide Title 3

In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Friday, 8 August 2014

Rizky; Teman Kecil yang Super Ganteng

Gue lupa ketemu Rizky pas kelas berapa. Dia saudara dari tetangga baru di kontrakkan berderet gue. Waktu itu, adik gue––Nafis, udah lahir dan sering main sama balita––saudaranya Rizky––yang namanya gue lupa. Mari kita deskripsikan betapa tampannya Rizky sampai-sampai semua anak seusia gue dan yang lebih tua dari gue selalu mencari perhatiannya.

Rizky.
Rambutnya hitam legamnya dipotong rapi berponi menaungi alis tebal yang senada dengan warna rambutnya. Matanya besar dan cokelat menenangkan. Kulitnya putih dan walaupun dia laki-laki, bibirnya merah.

Rizky lahir dari ibu beragama Kristen dan ayah beragama Islam. Karena dia tetangga gue––maksudnya, dia sering main ke rumah saudaranya––jadi, kami cukup akrab. Rumah aslinya juga nggak terlalu jauh dari rumah gue.

Kalau gue dan anak-anak yang lain main galaxy, gue pasti ngejagain dia terus. Habisnya ganteng banget sih, jadi secara sadar maupun tidak sadar, kaki gue selalu melangkah ke arahnya––anjaaaass gile. Apalagi kalau main nenek gerondong yang minta ubi. Gue pasti duduk di belakangnya supaya bisa megang-megang badannya yang walaupun masih kecil, sudah bisa dibayangkan kalau besar nanti bakalan segagah Robert Pattinson. 

Gue dan Rizky sering berbagi makanan, makan bareng, cerita-cerita soal kenakalan kami (gue lebih tepatnya) yang selalu dia jawab "You should just say you're sorry." dan gue mengangguk kecil sambil senyum-senyum, padahal dalem hati I would rather die. Well, Rizky adalah laki-laki yang bijaksana––waktu itu. Kalau dilihat-lihat tuh gue sama Rizky kayak pangeran tampan dan beruk hutan lagi main. Gue adalah bocah kecil hitam, dekil, nakal, dan nggak pernah nyisir rambut.

Suatu ketika––gue lupa, ini bulan Ramadhan atau bukan––dia bilang kalau dia mau SHOLAT! Gue syok. Sumpah beneran syok. Setahu gue, dia beragama Kristen dan pergi ke gereja. Tapi, karena dia minta ke gue buat ngajarin dia sholat, akhirnya gue bawa dia ke mesjid.

Arrin kecil bisa apasih Sholat juga belum khusyuk. Pas Rizky lagi sholat, gue ngintip-ngintip. Si Rizky juga nengok-nengok ke belakang. Terus gue senyumin aja. Hahaha. Tapi, gue nggak berani nanya kenapa dia mau sholat dan gue juga nggak tahu apakah dia masih pergi ke gereja atau nggak.

Kemudian, karena gue harus pindah rumah ke Bekasi––waktu itu kenaikan kelas dari kelas 2 ke kelas 3––jadi, gue nggak pernah ada kontak lagi sama Rizky. Sama sekali. Sampai sekarang. Gue nggak tahu sekarang fisiknya dia kayak gimana? Agamanya apa? Dia masih tinggal di Jakarta Utara (Belakang Kantor Pos, Jalan Swasembada) atau enggak? Gue nggak tau semuanya.....
Sekian.

Monday, 4 August 2014

Dosa Susu Kotak


Welcome Sekolah Dasar. Gue lupa, waktu itu gue masuk SD karena tangan kanan gue bisa nyentuh kuping kiri lewat atas kepala––kebayang, kan––atau karena ada tes masuk. 

Oh iya, sebelumnya perkenalkan Reni dan Andri. Mereka adalah sahabat terbaiiik gue sampai sekarang. Kita sudah berteman sejak masih dalam kandungan. Telepati. Kita satu TK, satu TPA, dan satu SD, serta satu motor berangkat ke sekolah bareng. Supirnya papah gue.

Kelas satu, kita sekelas. Karena rambut gue yang dipotong kayak cowok dan muka gue yang sangar sejak lahir, gue pun dikira cowok. Beruntung ada sesi perkenalan diri. Kelas satu, kalau nilai gue bukan seratus, pasti mamah men-judge gue becanda selama pelajaran. Don't judge your daughter by cover, Mom. Akhirnya gue belajar sampai malam hanya demi mendapatkan nilai seratus di semua mata pelajaran. Berkat mamah gue inilah, gue terpilih mengikuti lomba calistung mewakili Sekolah Dasar Negeri Kebun Bawang 05 Pagi. Kalau malem jadi Sekolah Drakula Ngesot Kebun Bawang 05 Malam––hahhaa, garing.

Sejak kelas satu, gue paling nggak bisa pelajaran kesenian, bab melipat kertas. Gue akhirnya nangis aja karena nggak bisa melipat kertas menjadi kodok dan burung. Monster of Jakarta nangis? Ya, lo pikir aja. Gue masih monster kecil ingusan. 

Ada soal yang paling gue benci waktu SD. Gue lupa siapa nama guru yang mendidik gue di kelas satu. Tapi, gue inget, gue benci banget sama soal ini:

Bersatu kita teguh, bercerai kita....

Gue jawabnya rapuh. Karena gue waktu itu sama sekali nggak tahu jawabannya. Gue belum pernah denger sebelumnya. Akhirnya berdasarkan kamus definisi ala gue, gue mengartikan kalau perceraian pasti membuat setiap hati rapuh––pemikiran keren.

Kelas dua, kita bertiga 'akhirnya' sekelas lagi karena Andri tidak ingin berpisah dengan gue dan Reni––anjaaas. Akhirnya, ibu kita bertiga membujuk pak kepala sekolah untuk mengizinkan supaya Andri bisa sekelas lagi sama kita bertiga. Ibu-ibu kita kayak Charlie's Angels.

Di kelas dua, gue pun berulah lagi. Waktu itu, setiap hari kamis biasanya dibagiin susu kotak gratis. Berhubung gue punya kulkas baru dan susu yang dibekukan rasanya tiga koma empat belas kali lebih nikmat, the devil inside my head has spoken, akhirnya gue pun berulah.

Si X lagi sibuk ngobrol sama temennya. Gue akhirnya mencuri susu kotak si X Kegiatan mencuri susu kotak X ini gue lakukan sebulan sekali sampai akhirnya pembagian rapor kenaikan kelas tiba. Oh iya, alasan gue ke orang tua tentang mendapat susu dua adalah karena ibu guru sayang sama gue, makanya gue dikasih susu lebih.

Saat pembagian rapor kenaikan kelas, mamah ketemu dengan ibunya X dan mereka ngobrol. Dari jarak yang nggak lumayan jauh, gue nguping. Gini percakapan mereka;

Mamah: Gimana anak lo? Ranking berapa?
Ibunya X: Ya Alhamdulillah sepuluh besar.
Mamah: Ranking satu sih Alhamdulillah.
Ibunya X: Anak lo dari kelas satu ranking satu juga, kan? Lo kasih makan apa?
Mamah: Dia mah bangke cicek aja dimakan––yang ini bohongan, gue lebay aja. 

Jadi, omongan sebenarnya mamah gue adalah "ya... biasa aja. Tapi, kelas dua ini anak gue tiap kamis minggu terakhir pasti bawa pulang susu dua." Dan... mamahnya X pun menjawab.... (matilah gue, tindak kriminal gue terbongkar)... "Kalau si X sih susu nggak terlalu suka. Paling dikasih ke temennya."

Ternyata, X tidak terlalu suka susu! Kalau begitu mendingan gue minta ajaaa dari dulu. Buat siapa pun yang merasa sebagai X temen SD gue, dan punya bukti kuat. Tolong comment. Hahahaha.

Sunday, 13 July 2014

Patchy Story


 Malam-malam nggak bisa tidur dan tiba-tiba keinget sama temen, namanya Riris. Dia cewek paling nggak tau malu. Teriak-teriak jemuran di kampus, pakai jam yang bisa nyala, dan selalu ngaku-ngaku kalau dia Rapunzel. Padahal, mirip sama daki yang nyelip di sikut Rapunzel aja enggak.
Jadi, inilah cerita dengan tokoh Riris.
**** 
  Selasa, 28 Agustus 2013
Kediaman Reno, pukul 20.45. Gerimis.
            Reno duduk lemah, menyibakkan rambut gondrong berantakan dari matanya, membaca pesan yang tertulis di kertas merah muda bergambar babi disana sini, ada anak babi, babi bunting, sampai babi menopause.
Reno sayang,
Aku tahu kamu pasti marah, kenapa tiba-tiba aku minta putus. Jangan salah paham dulu! Semua ini nggak ada sangkut pautnya sama reputasi aku yang menurun drastis di kampus semenjak pacaran sama alien macam kamu. Bukan! Yah, walaupun bulu idung kamu selalu ngeksis di luar goanya, walaupun rambut kamu kayak ijuk, walaupun style kamu lebih mirip gelandangan yang diterlantarin negara,  kamu tetep ranking satu dihati aku. Pacaran sama kamu lebih seru dari keseruan di jumanji. Nafas kamu juga wangi banget. Apalagi, muka kamu yang agak arab itu selalu ngingetin aku buat dzikir. Sayangnya, orang tua aku udah ngejodohin aku sama Joni. Aku nggak bisa nolak perjodohan ini. Kamu tau kan, bokap aku kayak apa?
Salam sayang,
Fevi
Reno butuh waktu untuk mencerna kenyataan tersebut. Jakunnya naik turun tidak karuan. Dia ingin berteriak, tapi akhirnya hanya menutup mulut rapat-rapat. Dengan celana pendek dan kaus bekas kepanitiaan jalan sehat edisi manula yang nyaris compang-camping, Reno pergi ke gudang, mengambil sebungkus pupuk kompos, lalu berlari ke balkon dan melempar seluruh isinya ke jalan, seolah sedang bermain bola salju.
Pupuk kompos kualitas super.
Rasakan itu, Joni!
****
Kediaman Reno, pukul 20.50. Masih gerimis.
Riris berjalan membawa setoples nastar di salah satu tangannya, sementara tangannya yang lain memegang gagang payung bening yang melindunginya dari hujan tanpa harus kehilangan keindahan langit malam. Sampai tiba-tiba sesuatu yang lengket dan bau mendarat mulus di payungnya. Sesuatu yang lebih legam dari langit malam.
Mata Riris mencari-cari si pelaku dan berhasil menangkap sesosok penampakan di atas balkon.
 “RENOOOO!”
          “Wadaw! Kena si Riris lagi,” gumam Reno panik. Mending mati saja daripada harus beradu mulut dengan lesbian bersuara D minor dari dunia antah berantah. Omong-omong, apa sih yang dilakukan lesbian?
            “Ngapain lo bengong?! Turun lo sini! Tunjukkin kejantanan lo!” lengking Riris.
          “Iye, gue bakal turun. Tapi, gue nggak janji kalau masalah nunjukkin kejantanan. Ini aset buat bini gue,” Reno balas menjerit sebelum akhirnya meninggalkan balkon untuk menemui Riris si lesbian. Pada saat itu juga, di posisi yang sama, mulut Riris ternganga mendengar apa yang baru saja diucapkan Reno. Kalau Riris udah nganga, burung wallet bisa buat sangkar disana.
            Hanya pagar besi yang menjadi hijab diantara mereka. Reno memasang tampang tolol dengan bibir terkatup rapat. “Apa gue masih harus nunjukkin kejantanan gue?”
            Apa?! “Iyalah! Eh, en-enggak!” Guobloook, batinnya.
Riris mengambil napas panjang. Lubang hidungnya menjadi dua kali lebih besar dan kembali menyusut seiring terbuangnya karbon monoksida. Hati-hati! Hidung Riris lebih bahaya daripada knalpot metro mini.  “Ngapain lo malem-malem ngelemparin pupuk kompos?”
Reno memutar-mutar matanya dengan wajah datar, “karena gue tau kalau wewe gombel bakal lewat. Eh, prakiraan gue bener. Lo tau apa artinya?” Wajahnya berubah sumringah, matanya melotot nyaris keluar. Antusias. “Gue ini Ki Joko Bodo Dos Santos Junior!”
“Ki Joko Bodong berbibir jontor!” timpal Riris galak.
Serta merta Reno membuka kausnya untuk memastikan kebodongannya. Matanya terbelalak, melihat pusarnya yang bodong beneran. Well, sebenarnya dari dulu Reno sudah tau kalau dia memang bodong.
“Gila nih cewek, selain lesbi matanya kayak sinar-x. Bahaya!” celetuk Reno dalam hati. Dalam gerakan cepat, Reno menutupi ‘aset’-nya, seolah bersiap-siap menghadang tendangan pinalti.
“Nih, nastar dari nyokap gue, special. Eng-nggak pa-ke pu-puk kom-pos,” ucap Riris stacato namun tajam.
“Ma-ka-sih,” balas Reno. Suaranya sengau.
            Riris kemudian balik arah meninggalkan Reno tanpa banyak bicara lagi.
           Tumben banget tuh mak lampir versi lesbi nggak banyak nyerocos, gumam Reno sembari balik badan.
            Sedetik kemudian, Riris mengumpulkan sisa-sisa pupuk kompos di payungnya.
            “Reno!”
            Reno menoleh, “ap––
           Reno bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya, pupuk kompos sudah mendarat mulus bagai cream malam di wajahnya. Dingin dan bau.
      “Pupuk kompos kualitas super. Rasakan itu, Reno!” Riris mengakhiri kalimatnya dengan tawa mengerikan. Ini beneran mengerikan.
****
           
Rabu, 29 Agustus 2013
            Toilet wanita, Fakultas Psikologi, pukul 14.20.
            Riris melihat wajahnya dari berbagai sudut di cermin. Berminyak banget. Akhirnya, ia membubuhkan bedak disana.  Sedikit saja. Mungkin sedikit lagi. Ah, sekalian saja banyak-banyak supaya putih. Demi Reno.
            Perpekto!
            Riris sebenarnya kepingin cowoknya ––asalkan Tuhan menghendaki, dia bukan lesbian–– setidaknya lebih normal sepuluh derajat dihadapan Tuhan dan semesta. Kalau bisa setampan Nicholas Saputra. Kalau bisa.
          “Lagi pula, gue nggak bakal punya cowok, soalnya gue kena kutukan jelek seumur hidup dan harus masuk panti jelek,” desahnya.
            Tiba-tiba pintu toilet berdecit.
           Ow-Oh. “Geng Pecinta Rok Sempit.” Bokong dan payudara mereka ‘sempurna’ walaupun agak over cook dan kebanyakan garnish.
          Pikiran Riris melayang, “gue nggak punya bokong ‘menonjol’ dan bokong gue nggak mulus sama sekali. Kayaknya harus pake SCRUB BOKONG!” Menyebalkan.
            “Dori, haruz berapa kali gue ngingetin cara jalan lo yang zuper duper nggak zekzi itu?” ucap Zaza si ketua geng GPRS. “Lo haruz ingatz, cowok menyukai cewek yang… eeerrrr.” Sesi menjulurkan lidahnya dalam gerakan cepat  beberapa kali setelah mengerang.
           Diam-diam Riris menyimak saat Zaza memeperagakan cara jalan yang ia anggap ‘zeksi and eerrr’ itu. Dada dibusungkan, tarik bahu ke belakang, bokong agak dinaikkan.
            Begitu.
         Riris nggak tahu apakah ia harus berjalan seperti itu atau tidak, toh berjalan seperi itu hanya bikin encok dan Reno si Mr.Bulu Hidung pun nggak akan melirik ke arahnya.
Gue mikir apa sih?
****
Kantin Fakultas Psikologi, pukul 14.20
“Hai... Fevi,” sapa Reno gugup.
Fevi menoleh. “Hai, Ren. Nafas kamu… wangi… banget,” sahut Fevi lambat-lambat seolah terhipnotis, jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Reno terkekeh. Mengingat, setiap bangun pagi, Reno selalu menghabiskan satu ikat kemangi. Ternyata kebiasaannya yang dipaksakan itu cukup membantu juga. Ralat. Sangat membantu.
Monyetnya mana nih? “Sendirian aja? Boleh ikut? Boleh ikut?” tanya Reno dengan suara yang di rendah-rendahkan supaya terdengar macho.
“Eh, anu, itu, anunya Joni...,” Fevi menarik lidahnya yang seperti terpelintir. “Maksudnya sama Joni.”
Gue yakin, Joni pasti lebih jelek dari gue yang dapet angket terjelek se-kompleks. Reno menyibakkan rambut  dari wajahnya. Tapi nyangkut, saking kusutnya. Gagal tebar pesona.
Tiba-tiba angin berembus kencang. Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki tampan dengan potongan rambut rapi berjalan mendekati Fevi. Badannya atletis dan cara jalannya ’laki’ banget. Joni.
Reno, sedari tadi menggigit-gigit bibir bawahnya tanpa sadar. Matanya menjalari seluruh tubuh Joni tanpa terkecuali ’aset’-nya.
Oke. Cukup. Reno geleng-geleng kepala. “Kayaknya gue harus pergi dari sini,” ucap Reno sembari membalikkan badannya. Kayaknya mending gue mati aja. Joni ganteng bingits.
“Reno,” sahut Joni. Suaranya ngebas, nggak dibuat-buat kayak Reno.
Reno menoleh tanpa bersuara. Rambutnya dikibas-kibaskan.
“Sebaiknya lo resletingin jins lo sulu sebelum penghuni di dalamnya kabur.” Joni mengaitkan jarinya-jaringa, membentuk  burung.
Mata Reno kontan terbelalak. Kampret!
“Reno,” kali ini Fevi yang memanggilnya. Ia melangkah mendekati Reno, kemudian berbisik. “Soal surat yang kemarin. Mmm... kayaknya lo bukan lagi yang ranking satu di hati gue,” Fevi menghela napas sesaat, “setelah dilihat-lihat, Joni ganteng banget dan...,” lagi-lagi Fevi menggantung kalimatnya, “…gue baru sadar kalau lo jelek banget.”
Selera cewek-cewek Indonesia rendahan banget!
****
            Parkiran, pukul 15.00.
            “Hei, mak lampir lesbi! Lo beli bedak kiloan di pasar kaget? Putih banget,” seru Reno. “Nah, terus kenapa jaalan lo juga kenapa jadi kayak bebek gitu? Itu efek sampingnya”
            “Gigi lo bunting! Ini bedak yang di tipi-tipi, yang suara pembuatnya disamarkan terus mukanya di blur itu, loh,” sahut Riris. Loh-loh, pinggang gue kenapa jadi nggak bisa balik?
            Gawat!
           “Duh.. duh kayaknya pinggang gue encok deh, nih. Bantuin gue, bantuin gue!” rengek Riris kesakitan.
            “Wadaw! Bodo amat, dah. Eh, tapi kasian juga tuh mak lampir lesbi,” ujar Reno dalam hati.
            Reno akhirnya turun dari motornya dan membantu Riris jalan. Reno benar-benar tahu Riris harus di bawa ke mana.
****
            Kediaman Mak Eden, pukul 16.00.
            “Ini rumahnya tukang pijat apa dukun beranak? Terisolasi banget.” Riris mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada tetangga. “Anjir. Gue tuh encok, bukan mau aborsi.”
            “Kata emak gue, Mak Eden top banget dah,” ujar Reno sambil mengetuk pintu kayu beberapa kali sampai seorang nenek dengan kain batik yang dililit di kepalanya membuka pintu.
            “Eh, den Reno. Ono opo toh?”
            “Temen saya encok, Mak Eden,” jawab Reno. “Mak Eden bisa sembuhin, kan?”
            “Oh, mriki kula mantunaken.”
            Reno mendorong Riris yang sedari tadi sudah panik. “Sana masuk! Gue tunggu disini.”
            Waktu terus berputar. Berkali-kali suara teriakan dan mohon ampun terdengar dari balik dinding kayu. Reno masih berjalan mondar-mandir di depan pintu, seolah seorang suami yang menunggu istrinya melahirkan.
            Tidak beberapa lama kemudian, pintu terbuka.
            “Gimana?” tanya Reno.
Riris tersenyum sumringah. “Alhamdulillah bayinya laki-laki.”
****
            Jumat, 31 Desember 2013
            Kediaman Reno, pukul 23.30.
            Ting…tong.
           Yak, dikit lagi. Dan… ‘plung’, akhirnya. “Iya, tunggu!” teriak Reno dari wc. Buru-buru ia cebok dan memakai celana pendeknya yang udah sobek disana-sini. Reno berjalan, setengah berlari, menuju pintu utama.
            Wohh! Setan lesbi. Tumben, cantik banget dia malem ini.
            Tanpa disadari, Reno ngiler. “Ada apa, Ris?”
          “Mau ngucapin makasih soal pertolongan kemaren,” Riris mesem-mesem. “Nih, gue buatin kue special buat lo. Cobain nih.”
         Reno menyeka ilernya dan langsung nyicipin cokelat buatan Riris. Kelihatannya enak. Ternyata, rasanya kayak kamper.
            “Reno…,” Riris menghentikan kalimatnya sesaat, “…lo suka gue yang sekarang nggak?”
            Banget. “Najis!”
            Kenapa Riris bisa secantik ini? Pikir Reno. Ternyata teori evolusi berlaku buat Riris. Monyet bisa jadi the real manusia.
            Reno berdeham. “Ris, lo mau––
            Riris memotong, “––jadi pacar lo?” Lalu dengan antusias ia menambahkan, “Mau!”
            “Bukan!sergah Reno. “Lo mau pulang atau gimana? Gue mau lanjutin boker.” Lantas Reno buru-buru ninggalin Riris yang masih ternganga di tempat yang sama. Tahu sendiri kan rasanya.
            Setelah manyun-manyun dan meratapi dirinya sendiri, Riris pulang dengan hati hampa. Mungkin gadis itu memutuskan untuk benar-benar menjadi lesbi. Sementara, Reno boker sambil mikirin Riris. Nggak tahu kenapa, hawa kamar mandi dan Riris menyatu banget.
Ngaco.
          Reno mikirin Riris karena penampilan Riris tadi agak cantik. Nggak biasanya Riris pakai bulu mata palsu, meskipun itu bulu mata sepuluh ribuan. Apa Riris jatuh cinta sama gue? Pikir Reno. Jangan-jangan Riris jodoh gue?
          Kelanjutan cerita absurd ini ditentukan oleh Reno setelah ia boker. Dan… biarkanlah hanya Reno, Riris, dan seluruh tokoh yang ada di dalam cerita ini yang mengetahui bagaimana kelanjutan cerita mereka.
            Omong-ngomong, Reno boker lama banget. Sampai pergantian tahun.
****